Loading...

Selasa, 09 April 2013

makalah tafsir ayat-ayat dakwah (surat an-nahl:125)

BAB 1
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Allah berfirman dalam surat al-hijr ayat 94:
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ
Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik
                        Ayat tersebut mengandung makna bahwa allah memerintahkan pada nabi Muhammad agar berdakwah secara terang-terangan. Dalam al-qur’an juga di jelaskan beberapa metode dakwah dalam islam, untuk memahami bagaimana metede dakwah dalam islam yang sebenarnya, maka penulis merasa perlu kiranya untuk menguraikan metode-metode dakwah dalam islam yang telah tersebut dalam salah satu ayat dalam al-qur’an.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana metode dakwah dalam islam?
2.      Kepada siapa saja dakwah itu perlu di sampaikan?
3.      Seperti apa sikap yang harus di terapkan dalam berdakwah?

BAB 2
PEMBAHASAN
DASAR-DASAR DAKWAH DAN SIKAP ISLAM TERHADAP LAWAN

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.[1]
A.    TAFSIR MUFRODAT
1.      ادع الى سبيل ربك  : kata  ادع tersebut menurut ibnu katsir mengandung arti perintah allah SWT kepada nabi muhammad SAW untuk mengajak makhluk (manusia), sedangkan kata الى سبيل ربك mengandung arti kepada jalan rabbmu, yang dimaksud jalan tuhan tersebut iyalah     دين الإسلام (agama islam).[2]
2.      با الحكمة : menurut abil hasan kata bil hikmah tersebut mengandung dua tafsiran, yang pertama dengan al-qur’an dan yang kedua dengan kenabian (hadits).[3]
3.      وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ : kata mauidatil hasanati mengandung arti dan pelajaran yang baik, menurut syaikh ahmad showi kata mauidatil hasanah tersebut mengandung arti perkataan yang baik atau nasihat yang lembut.[4]
4.      وجادلهم بالتي هي أحسن mengandung arti dan bantahlah mereka dengan cara yang baik, seperti menyeru mereka untuk menyembah allah dengan menampilkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran-NYA atau dengan hujjah-hujjah yang jelas.
B.     MUNASABAH AYAT
Dalam ayat yang lalu, Allah SWT menerapkan tentang nabi ibrahim as sebagai pemimpin yang memiliki sifat-sifat mulia, penganut agama tauhid dan penegak ketauhidan.
Kemudian Allah SWT menjelaskan perintahnya kepada nabi Muhammad saw agar mengikuti agama Ibrahim as dengan perantaraan wahyu-Nya. Maka dalam ayat-ayat ini, Allah SWT memberikan tuntutan kepada Nabi untuk mengajak manusia kepada agama tauhid, agama Nabi Ibrahim, yang pribadinya diakui oleh penduduk jazirah Arab, yahudi dan nasrani.[5]

C.     TAFSIR GLOBAL
Dalam ayat ini Allah SWT memberikan pedoman-pedoman kepada rosulnya tentang cara mengajak manusia (dakwah) ke jalan Allah. Yang di maksud jalan Allah di sini ialah agama Allah yakni syariat islam yang di turunkan kepada nabi Muhammad SAW.
Dalam ayat ini Allah SWT meletakkan dasar-dasar dakwah untuk pegangan bagi ummatnya di kemudian hari. Diantaranya:[6]
Pertama, Allah SWT menjelaskan kepada rosul-Nya bahwa sesungguhnya dakwah ini adalah dakwah untuk agama allah sebagai jalan menuju ridha ilahi. Bukanlah dakwah untuk pribadi da’i (yang berdakwah) ataupun untuk golongannya dan kaumnya.
Kedua, Allah SWT menjelaskan kepada rosul SAW agar dakwah itu dilakukan dengan hikmah. Hikmah disini mengandung beberapa arti, diantaranya:
a)      Berarti pengetahuan tentang rahasia dari faedah segala sesuatu. Dengan pengetahuan itu sesuatu dapat di yakini keadaannya.
b)      Berarti perkataan yang tepat dan benar yang menjadi dalil (argumen) untuk menjelaskan mana yang hak dan mana yang batil atau subhat (meragukan).
c)     Arti yang lain ialah kenabian menegetahui hukum-hukum Al-qur’an, paham Al-qur’an, paham Agama, takut kepada Allah, bnear perkataan dan perbuatan.
Artinya yang paling tepat dan dekat kepada kebenaran ialah arti yang pertama, yaitu pengetahuan tentang rahasia dan faidah sesuatu, yang mana pengetahuan itu member manfaat.[7]
Dakwah dengan hikmah adalah dakwah dengan ilmu pengetahuan yang berkenan dengan rahasia, faidah dan maksud dari wahyu ilahi, suatu pengetahuan yang cukup dari da’I, tentang suasana dan keadaan yang meliputi mereka, pandai memilih bahan-bahan pelajaran agama yang sesuai dengan kemampuan daya tangkap jiwa mereka sehingga mereka merasa berat dalam menerima ajaran agama, dan pandai pula memilih cara dan gaya menyajikan bahan-bahan pengajian itu, sehingga ummat mudah menerimanya.
Ketiga, Allah SWT menjelaskan kepada rosul agar dakwah itu di lakukan dengan pengajaran yang baik, yang dapat di terima dengan lembut oleh hati manusia tapi berkesan dalam hati mereka. umumnya memberikan berita gembira dan berita peringatan dari Allah pencipta alam, misalnya firman Allah dalam surat al-a’raaf ayat 179.
Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai”.
Khutbah atau pengajian yang di sampaikan dengan bahasa yang lemah lembut, sangat baik untuk menjinakkan hati yang liar dan lebih banyak memberikan ketentraman dari pada khutbah dan pengajian yang isinya ancaman dan kutukan-kutukan yang mengerikan. Jika pada tempat dan waktunya, tidaklah ada jeleknya memberikan pengajaran dan pengajian yang berisikan peringatan yang keras atu tentang hukuman-hukuman dan adzab-adzab yang di ancamkan tuhan kepada mereka yang sengaja berbuat dosa (tarhib).
Rosulullah SAW, untuk menghindari kebosanan dalam pengajiannya, menyisipkan dan mengolah bahan pengajian yang menyenangkan, dengan bahan yang menimbulkan rasa takut. Dengan demikian tidak terjadi kebosanan yang di sebabkan urutan-urutan pengajian yang berisi perintah dan larangan tanpa memberikan bahan pengajian yang melapangkan dada atau yang merangsang hati untuk melakukan ketaatan dan menjauhi larangan.[8]
Keempat, Allah SWT menjelaskan bahwa bila terjadi pembantahan atau perdebatan dengan kaum musyrikin ataupun ahli kitab, maka hendaklah rosul membantah mereka dengan pembantahan yang baik
Tidaklah baik memancing lawan dalam berdebat dengan kata yang tajam. Karna hal demikian menimbulkan suasana yang panas. Sebaliknya hendaklah di ciptakan suasana yang nyaman dan santai sehingga tujuan dalam perdebatan untuk mencari kebenaran itu dapat tercapai dengan hati yang puas.
Lawan berdebat supaya di hadapi demikian rupa sehingga dia merasa bahwa harga dirinya di hormati, dan da’I menunjukkan bahwa tujuan yang utama ialah menemukan kebenaran agama Allah SWT.
Kelima, Allah SWT menjelaskan kepada rosul bahwa ketentuan akhir dari segala usaha dan perjuangan itu, pada Allah SWT. Hanya Allah SWT sendiri yang menganugrahkan iman kepada jiwa manusia, bukanlah orang lain ataupun da’I itu sendiri. Dialah tuhan yang maha mengetahui siapa diantara hambanya yang tidak dapat mempertahankan fitrah insaniahnya (iman kepada Allah) dari pengaruh-pengaruh yang menyesatkan, hingga dia sesat, dan siapa pula diantara hamba yang fitrah insaniahnya tetap terpelihara sehingga dia terbuka menerima petunjuk atau hidayah Allah SWT.

D.    PENJELASAN
Sebagian ulama’ memahami ayat di atas sebagai menjelaskan tiga macam metode dakwah yang harus di sesuaikan dengan sasaran dakwah. Yang pertama Kepada para cendikiawan yang memiliki pengetahuan tinggi di perintahkan menyampaikan dakwah dengan الحكمة (hikmah) yakni berdialog dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat kepandaian mereka. Kedua terhadap kaum awam, diperintahkan untuk menerapkan والمو عظة الحسنة yakni memberikan nasihat dan perumpamaan yang menyentuh jiwa yang sesuai dengan taraf pengetahuan mereka yang sederhana. Ketiga terhadap ahl al-kitab dan penganut agama-agama lain yang di perintahkan adalah jidal/perdebatan dengan cara yang terbaik yaitu dengan logika dan retorika yang halus, lepas dari kekerasan dan umpatan.
                        Kata  حكمة (hikmah) antara lain berarti yang paling utama dari segala sesuatu, baik pengetahuan maupun perbuatan. Dia adalah pengetahuan atau tindakan yang bebas dari kesalahan atau kekeliruan.
                        Kata المو عظة terambil dari kata وعظ yang berarti nasihat. Mau’idzah adalah uraian yang menyentuh hati yang mengantar kepada kebaikan. Demikian di kemukakan oleh banyak ulama’. Sedangkan kata جادلهم terambil dari kata جادال yang bermakna diskusi atau bukti-bukti yang mematahkan alasan atau dalih mitra diskusi dan menjadikannya tidak dapat bertahan, baik yang di paparkannya itu di terima oleh semua orang maupun hanya oleh mitra bicara.
                        Sedangkan jidal (perdebatan) terdiri dari tiga macam, yang buruk adalah yang disampaikan dengan kasar, yang mengundang kemarahan lawan serta yang menggunakan dalih-dalih yang tidak benar. Yang baik adalah yang disampaikan dengan sopan, serta menggunakan dali-dali atau dalih walau hanya yang di akui  oleh lawan, tetapi yang terbaik adalah yang di sampaikan dengan baik, dan dengan argument yang benar, lagi membungkam lawan.
                        Demikianlah juga cara berdakwah Nabi Muhammad SAW, mengandung ketiga metode di atas. Metode tersebut di terapkan kepada siapapun sesuai dengan kondisi masing-masing sasaran.[9]

BAB 3
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat di simpulkan sebagai berikut:
Terdapat tiga metode dakwah dalam islam, pertama: با الحكمة (dengan hikmah) yaitu al-qur’an dan hadits; kedua: والمو عظة الحسنة (pelajaran yang baik) atau perbuatan yang lembut; ketiga: وجادلهم بالتي ه أحسن (dan bantahlah mereka dengan cara yang baik) seperti menyeru mereka untuk menyembah allah dengan menampilkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran-Nya.



[1] An-nahl:125
[2] Abi al-fida’ ismail, Tafsir ibnu katsir juz 2, (Bairut: Darul fikri, TT), 592.
[3] Abil hasan, Tafsir al-mawardi juz 3, (bairut: Darul kitab al-ulumiyah, TT), 220.
[4] Syaikh ahmad showi, Tafsir jalalain juz 2, (Bairut: al hidayah, TT), 333.
[5] Departemen Agama Repoblik Indonesia, Al-qur’an dan tafsirannya, (yogjakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf, 1995), hal 500.
[6] Ibid, hal 500.
[7] Tafsir As-showi pada ayat 269 al-baqoroh, hal  114.
[8] Tafsir as-showi padda ayat 125 an-nahl.
[9] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah  juz 7, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 386-388.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar